Kekuatan Cinta
Safana Aisha = 16 tahun
Adrian Roles : 22 tahun
Blurb
Ini kisah tentang gadis remaja berusia
tujuh belas tahun yang dinikahi siri oleh kekasihnya sendiri, meskipun hanya
sebatas pernikahan siri tetapi ia mencintai lelaki itu. Namun begitu menikah
dengan lelaki yang dicintainya tidak lantas membuat hidupnya bahagia, bahkan
banyak sekali cobaan yang datang menghampirinya, menguji kisah cintanya. Kedua
orang tua lelaki itu tidak merestuinya. Kesabaran hatinya diuji, tidak sampai
di situ saja, lelaki yang secara agama sah menjadi suaminya itu ternyata
melakukan sesuatu yang sangat mengecewakananya, menghancurkan hatinya hingga
hanya ada dua pilihan nanti yang akan dipilihnya, meninggalkan lelaki itu atau
mempertahankannya.
***
Safa meletakkan tasnya di atas meja yang
terletak di samping ranjang berukuran sedang miliknya. Lalu gadis itu mengusap
wajahnya dengan kasar. Dia meremas cek senilai
tiga milyar di tangannya dengan kasar. Uang sebanyak itu sangat cukup
untuk memenuhi kehidupannya seumur hidup. Dia bisa membeli rumah mewah dibanding
harus tinggal di rumah kecil ini. Dia juga bisa menggunakannya untuk membeli
perhiasan agar seperti teman-temannya yang lain. Tapi Safa tidak bisa melakukan
itu, dia tidak ingin menukar cintanya dengan apapun, termasuk seberapapun besar
uang yang diberikan Ibu lelaki yang dicintainya tersebut.
“Ini cek tiga milyar untuk kamu, kamu
bisa pergi dari sini, jauhi anak saya dan jangan pernah berani berhubungan lagi
dengan dia, kamu harus sadar siapa kamu, level
kamu jauh di bawah kami, jangan pernah bermimpi terlalu tinggi. Adrian sudah
saya jodohkan dengan gadis yang lebih baik dari kamu, lebih se-level dengan kami.” kalimat yang diucapkan
oleh Ibu dari pemuda yang dicintainya itu bukan hanya merendahkannya, tapi juga
sangat menyakitinya. Safa sudah biasa direndahkan seperti ini oleh orang-orang
kaya yang menilai segala sesuatu hanya dari uang. Tapi belum pernah ada orang
yang merendahkan dirinya dengan serendah-serendah, kecuali Ibu lelaki itu.
Safa merobek cek ditangannya dengan
kasar menjadi tidak berbentuk lagi. Air matanya mengalir deras membasahi
pipinya. Dia ingin pergi, menjauhi laki-laki yang dicintainya dan menjauhi
orang-orang yang sering menyakiti hatinya, tapi itu begitu sulit. Sebuah
perasaan cinta yang terlalu besar tidak mudah mengalahkan itu semua. Membuat
Safa harus bertahan dalam keadaan tersakiti sekalipun. Namun kalimat
menyakitkan dari orang tua laki-laki yang dicintainya itu sering kali membuat
Safa ingin menyerah. Menyerah untuk melepaskan lelaki itu.
Safa merasa bimbang. Antara ingin pergi
atau tetap bertahan disini. Dua-duanya membuat Safa sakit dan lemah. Suara
ketukan pintu rumahnya membuyarkan Safa dari lamunannya. Safa melangkahkan
kakinya, membuka pintu dan sudah mendapati laki-laki yang menjadi pusat
pikirannya di sana, di hadapannya.
“Assalammu’alaikum sayang,” ucapnya,
seperti biasa dengan sebuah senyuman yang selalu menghiasi wajah tampannya.
Safa menjawab salamnya tanpa membalas senyuman lelaki itu. Setelah mencium
punggung tangan lelaki itu ia kembali masuk kedalam rumahnya.
Adrian meletakkan makanan yang dibelinya
di dapur kemudian dia menghampiri Safa dengan berbagai pertanyaan yang
bersarang di kepalanya. Adrian duduk di samping Safa. “Aku ada salah sama kamu?”
tanyanya dengan bingung. Tadi pagi mereka masih baik-baik saja. Safa masih
bersikap seperti biasanya. Bahkan sebelum dia berangkat ke kantor mereka masih
sempat becanda. Lalu kenapa setelah dia pulang, Safa menyambut dirinya dengan
dingin? “Fa, kalau kamu nggak cerita, aku nggak tahu salah aku apa?” ucap
pemuda itu.
“Kak Adrian kenapa gak pernah bilang
sama Safa, kalau Kak Adrian dijodohin sama orang tua Kakak?” seketika itu juga,
tubuh Adrian menegang. Safa menatap Adrian dengan rasa kecewa. Lelaki itu
menyembunyikan sesuatu yang sangat penting darinya. “Kalau Safa tahu, Kak Adrian
udah dijodohin, Safa ngak akan mau ….” Kalimat itu terhenti ketika Adrian memeluknya
dengan erat.
“Tolong jangan pernah ngomong gitu. Aku
bukannya nggak mau cerita, tapi belum aja. Aku nunggu waktu yang tepat. Mama
maksa aku untuk menikah dengan anak sahabatnya, tapi kamu tenang aja, aku nggak
akan pernah mau. Karena aku udah punya kamu.” Adrian mencium ubun-ubun Safa
sambil memejamkan matanya.
“Tapi Safa capek.“ lirih gadis yang
masih berusia tujuh belas tahun itu. “Safa pengin nyerah aja, Safa nggak kuat
dihina terus sama keluarga Kakak. Dari awal hubungan kita emang udah nggak direstuin,
perbedaan kita itu terlalu jauh, Safa nggak apa-apa kalau Kak Adrian ninggalin
Safa.” isakan kecil keluar dari bibir mungil gadis kelas tiga SMA itu. Apa yang
diucapkannya tidak sesuai dengan hatinya. Dia tidak tahu bagaimana jika
hidupnya tanpa Adrian—orang yang selalu ada untuknya selama dua tahun
belakangan ini.
Adrian mengusap punggung Safa yang
bergetar. Apapun akan dia lakukan asal Safa tidak meninggalkannya. Adrian tidak
mungkin menuruti keinginan orang tuanya untuk menikah dengan gadis yang tidak
dicintainya. Dia sudah milik Safa seutuhnya dan sudah terikat secara agama, meski
tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
“Apa kita pergi dari sini?” Safa yang
sudah lebih tenang menatap Adrian dengan tidak percaya. Adrian menghapus sisa
air mata di pipi Safa. “Kita pindah ke kempat di mana Mama dan Papa nggak bisa
nemuin kita.” ucapnya lagi.
Safa terdiam memikirkan ucapan Adrian. Kalau
mereka pergi, itu artinya dia memisahkan Adrian dengan kedua orang tuanya. Safa
sudah merasa tidak enak hati dengan statusnya sekarang yang tanpa restu dari
orang tua Adrian. Safa menggeleng pelan. Dia meraih jari kelingking Adrian dan
menautkannya dengan kelingkingnya. Adrian mengernyit heran.
“Kalau Safa tetap bertahan …” gadis itu
sedikit menghela napasnya. “Kak Adrian harus janji nggak akan ninggalin Safa?
Nggak akan nikah lagi sama cewek lain.” ucap Safa seraya menatap mata Adrian.
Ketakutan terbesarnya adalah membagi Adrian dengan perempuan lain. Safa tidak
akan pernah sanggup apabila itu terjadi. Dan dia lebih baik memilih mundur,
dalam artian mengikhlaskan Adrian.
Adrian tersenyum dan menggenggam tangan
Safa. “Kalau begitu kamu harus bisa luluhin hati Mama dan Papa.” Safa mengangguk meski hatinya tidak yakin.
Bagaimana caranya agar dirinya bisa diterima dikeluargaAdrian? Safa baru pernah
dua kali masuk ke dalam rumah milik lelaki itu. Itupun dia sudah mendapat
sindiran secara terang-terangan yang begitu melukai hatinya.Terkadang Safa merasa
bingung kenapa orang kaya itu selalu menghina orang-orang miskin seperti
dirinya. Mereka juga punya hati dan perasaan. Mungkin akan membutuhkan waktu
yang lama untuk bisa mendapatkan hati dari kedua orang tua lelaki yang dicintainya
itu.
“Gimana tadi sekolahnya?” Adrian mengubah
topik pembicaraan. Tangan Safa yang masih berada digenggamannya itu dikecupinya
berkali-kali. Safa tersenyum kecil. Dia selalu menyukai cara Adrian
memperlakukannya sebagai seorang istri, yang membuat Safa merasa sangat
dicintai. Seandainya saja hubungan mereka ini tidak ada halangan dari kedua
orang tua Adrian, pasti Safa akan merasa sangat bahagia.
“Tadi ada anak baru, ganteng, lebih
ganteng dari Kak Adrian.” Adrian menghentikan aktivitasnya dan menatap Safa
tidak suka. Safa menahan tawanya melihat ekspresi wajah Adrian. Detik
berikutnya sebuah gelak tawa keluar dari bibir gadis itu.
Adrian menarik hidung mancung Safa. “Coba
bilang sekali lagi.” Safa memukul-mukul tangan Adrian, hidungnya sekarang pasti
memerah. Adrian melepaskan tarikannya dan memeluk Safa dengan erat, Safa mendengus
dalam pelukan suaminya itu.
“Bau bangetsih istri aku,” ucapnya, tapi
bibirnya tidak berhenti untuk mengecupi pipi gadis itu. sekali lagi Safa mendengus
dan berusaha melepaskan tangan Adrian yang kini melingkar di perutnya.
“Kalau bau nggak usah cium-cium,” ucap
Safa galak. Adrian terkekeh tanpa menghentikan kegiatannya.
“Tapi aku suka baunya, gimana dong?”
Safa memutar kedua bola matanya dan berdiri sehingga pelukan Adrian terlepas. Adrian
terlihat cemberut karena masih ingin memeluk Safa. Safa mengecup bibir Adrian
sebelum berjalan kearah dapur untuk mengambil makanan yang tadi dibeli Adrian,
membuat lelaki itu menahan senyumnya atas perlakuan manis yang diberikan
istrinya tersebut. Tidak lama dia kembali lagi dan meletakkan makanan itu
diatas meja.
“Kak Adrian makan duluan aja, Safa mau
mandi dulu.” Safa melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi, sementara Adrain melangkah
menuju meja makan dan duduk di sana sambil menunggu Safa selesai mandi.
Di dalam kamar mandi, Safa memandangi
dirinya di depan cermin. Dia tampak beberapa kali menghela napas kasar. “Apa
Safa bilang sekarang, ya sama Kak Adrain?” batinnya seraya mengusap perutnya. Beberapa
minggu ini ada beban yang sangat mengganggu pikiran Safa. “Ya Allah hamba masih
mau sekolah.”
***
“Adrian!!” Adrian menghentikan langkah
kakinya sebelum menaiki anak tangga. Dia membalik badannya dan menatap ibunya
dengan malas.
“Kamu pasti habis ketemu gadis miskin
itu lagi, kan?” Mona selaku ibu dari Adrian menghampiri putra semata wayangnya
itu. Adrrian adalah anak satu-satunya sekaligus akan jadi pewaris tunggal harta
kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Roles.
“Mama bisa nggak, tidak menghina orang
yang Adrian sayangi. Mama udah terlalu sering nyakitin Safa. Mama nyakitin Safa
sama aja dengan nyakitin Adrian.” ucap Adrian dengan marah. Dia tidak bisa diam
saja Safa selalu dihina oleh orang tuanya.
Mona tersenyum dengan sombongnya. “Dia memang
pantas dihina, Mama tidak suka melihatnya , Mama mau kamu menikah dengan anak
sahabat Mama dan kamu tidak boleh menolaknya.”
“Mama Adrian udah …” lelaki itu
menghentikan ucapannya, memikirkan dampak yang akan dia dan Safa terima bila
mamanya itu mengetahui dia sudah menikah. Mona mengernyit, kemudian kembali bersuara.
“Besok Papa kamu akan pulang, dan kami
secepatnya akan membicarakan pernikahan kalian. Mama nggak mau kamu
mempermalukan keluarga Roles di depan sahabat Mama.”
Tanpa berniat membalas ucapan Mona,
Adrian meninggalkan mamanya begitu saja
menuju ke kamarnya dengan suasana hati yang tidak baik.
“Adrian!! Mama belum selesai bicara!”
teriak Mona. Adrian tetap menghiraukan mamanya dan menutup pintu kamarnya
dengan sangat keras. Dia menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang
miliknya. Menikah tanpa sepengetahuan orang tuanya itu memang tidak enak untuk
Adrian. Dia tidak bisa terus-terusan berada di rumahnya bersama Safa karena
orang tuanya bisa saja curiga dan Adrian takutnya orang tuanya itu akan berbuat
sesuatu yang tidak diinginkannya pada Safa.
“Safa ‘kan mau luluhin hati Mama dan Papa,
apa gue ngaku aja, ya.” ujarnya menimbang-nimbang.
***
Safa yang sedang tertidur tiba-tiba
terbangun karena mendengar suara deringan ponselnya. Dengan mata yang sedikit
terbuka gadis itu mengangkat telponnya.
“Safa, besok Tante mau ke kost-an kamu,
Tante udah kangen banget sama kamu.” mata Safa seketika terbuka lebar. Lalu
tiba-tiba dia menjadi panik sendiri. Sejak menikah dengan Adrian dua bulan yang
lalu dia sudah tidak tinggal di kosta-nya lagi. Bagaimana jika tantenya curiga dan
bagaimana kalau dia ketahuan sudah menikah? Tantenya itu pasti akan marah
besar.
“Tapi Tante ...”
“Pokoknya besok Tante tetap akan ke
kostan kamu.” kemudian telpon itu terputus. Safa menghela napasnya lalu mengirim
sebuah pesan pada Adrian.

cerita hasil karya sendirikah mba? Btw tampilan blognya disaya kok berantakan ya
BalasHapusIyaaa karya sendiri. Tulisannya kah yg berantakan? Aku baru bikin blog jadi kurang ngerti.
HapusInformasinya sangat bermanfaat sekali gan, menambah pengetahuan saya tentang bidang Kekuatan Cinta
BalasHapus.........
Terima kasih telah berbagi gan...
by: Ilmu Memperbanyak Pengunjung Blog
........
Jika agan ingin Tips dan Tutorial Cara Meningkatkan dan Memperbanyak Jumlah Pengunjung Blog dan Visitor Blog serta Viewer Blog, silakan kunjungi www.pengunjungblogs.com.